Nabi Yesaya memberikan satu gambaran bagus tentang Allah pada zaman
perjanjian lama. Gambaran itu menunjuk pada “kualitas” Allah sebagai Tuhan yang
senantiasa menyertai umatNya. Allah tidak hanya menyertai tetapi juga memberi
makan. Allah tidak hanya memberi makan tetapi juga menjamin hidup umatNya. Jaminan
itu berpuncak pada keselamatan yang akan diberikan Allah kepada umatNya. Demikianlah
Allah adalah sumber air hidup yang menyegarkan.
Dalam perjanjian baru, penginjil Yohanes menempatkan Yesus sebagai
Tuhan yang menyelamatkan. Di samping kolam air Betesda, Yesus menunjukkan hal
itu. Orang lumpuh disembuhkan tanpa harus terjun ke dalam air yang
menyembuhkan. Allah yang dulu adalah sumber air kehidupan, kini “dipindahkan”
oleh Yohanes dalam diri Yesus Kristus. Dialah sumber air hidup yang sebenarnya.
Dialah Allah yang menjamin hidup sekalian orang di bumi ini. Ia benar-benar “menyegarkan.”
Kalau demikian, akar-akar kita perlu digerakkan ke arah sumber air
hidup itu. Hati dan pikiran kita perlu ditambatkan pada Yesus supaya kita pun
meresap air kehidupan itu. Hati sebagai akar perlu diarahkan kepada Yesus. Dan,
pikiran sebagai akar pun harus tertuju kepadaNya. Dengan begitu, kita
memperoleh rahmat yang menyegarkan serta keselamatan yang kekal. Kita hanya
dapat hidup dari Dia, maka berpisah dariNya adalah masalah besar bagi kita. Berpisah
berarti tak berdaya dan mati.
@kaki bantik pineleng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar